Mengalah Atas Samudera
Sepertiga malan aku berusaha menstabilkan otak
Ku coba beberapa teguk Anggur dan semua berubah,
Inginku menulis tanpa dasar sejak kemarin
Teman adalah hal segalanya seperti yang ia katakan
Dan bonekaku menjadi sandaran meskipun selangkangannya berlubang
Maaf, mungkin aku terlalu banyak bersandar
Jika memilih, teman atau waktu ?
Hanya teman yang akan aku perjuangkan
Kecuali seprangkat alat solat sudah di depan mata
Dunia akan berubah
Sudah tua ia akan rapuh dan penuh sakit
Berdoa pada TUAN,
Apakah semuanya kan nyata wahai Tuan ?
Ia pun seperti kondisi
Andai aku anak Sultan
Samudera, gunung, dan lautan akan aku nyatakan
"Itu semua hartaku, dan alien tidak berhak atas segalanya"
Jika aku anak seorang petani,
Ayahku berkata
"Sudah siap memeberi anakku makan dari padi yang beegoyang ?"
Dan aku akan mengalah atas segala samudera gunung dan lautan.
Bidaraiku akan turun
"Ini nikmat atas Anggur, ia adalah anggur dan kau adalah malam"
Perutku lapar wahai malaikat,
Makan saja waktu, itu kenyang
Tapi malaikat, Anggur itu menyegarkan
Memang;
"Hanya saja kamu belum bisa"
Dan aku berfikir tapa bisa dijalaskan.
Pia Alba, 11 mei 2017. Bandung.
Komentar
Posting Komentar