Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Subuh Berbunyi

Satu hari dua hari Lalu tiga hari empat hari Ku tertawa lalu bernyanyi Menari diiringi bunyi Masih berbunyi senyum ini Hari ini Semakin larut, 12.30 berlalu Menghilang Lalu menunggu kabar Begitu tembok pun berkata tidur Tapi bunyi itu belum terdengar Selalu tidak terjawab Oh mungkinkah sedang larut dalam kedamaiannya ? Dalam fantasinya ? Aku tidak mau tahu Tapi 12.30 telah berlalu 3.26 Setelah kudengar bunyi Bernada pelan dan tak berseni Ku sudah pulang sejak awal Tapi ku entah percaya atau tidak Semisal pulang ternyata lambat Lebih dari 12.30 Oh maaf Nada yang sering terdengar Oh maaf Berapa kali sering ku dengar Ku sudah banyak Buka lemari Kuambil amunisi Ku tuangkan Satu teguk dua teguk Ku menikmati Oh Tuhan, tidurkan aku saat ini Ku ingin bermimpi dan damai Berimajinasi dan menghayati Bermain halusinasi dengan tragedi Tuhan Jangan salakan aku jika rusak Ini bukan aku Kondisiku terlalu buruk Ku tidak bisa menahan diri Ku ingin damai s...

-

Gelap, Ku pulang lebih awal Ku terima kabar memanggil Ketika itu lampu merah belum hijau Ku buka singkat pesan itu Lalu ku masukan kemali Karena hijau menghampiri Ku sampai di sebuah titik Ku panggil teman lalu menepi Ku lanjutkan kebali sampai hijau menghampiri Lalu ku sampai lagi Ku pulang dan membaca Ternyata sedang berpesta dengan mereka Pikirku tidak menerka Silahkan saja terus berpesta Karena ku pulang untuk sengaja Berbaring Pikirku, ingin kembali menyusuri malam dengan pil Sendiri Hampanya orang-orang pergi Ku ingat, Ketenangan itu aku ingat Ku tuangkan, ku tenggelam Biarkan Aku menikmati imajinasiku sendiri Membuat pikiranku tidak membaur Ku tertawa Melihat aku menari didalam cermin Menyadari bahwa aku ada dua Menyadari bahwa aku ada teman Menyadari bahwa aku dewa Ku tuangkan lagi Sekali Dua kali Sampai ku jilat Berakhir tersipu Aku meragu Tertawa hahahaha Bersandar pada yang rapuh Lalu ku bangkit Malammu, tidak seindah malamku T...

-

Aku Mabuk Kedamaian Aku mendapatinya setengah mati Tertanam dalam benih juga birahi Lih ibarat bumi yang sudah tidak bisa dihuni Sepertiga tandus hilangnya hati nurani Terdampar dalam gelapnya air keras Satu pil dua pil tetap mengeras Lalu, ku coba untuk menahan nafas Oh ternyata gelap sejak aku mengenal paras Memutarkan badan lalu terjatuh Memejamkan mata lalu terkukuh Merasa hampa lalu ku sentuh Tapi sayang, masih tak terenyuh Sebuah botol melihat keheranan Apa aku harus menghabisimu ? Merasukimu agar semua damai ? Iya, ku merelakan diriku untuk damaimu Bandung, 6 Agustus 2017 Pia Alba

15

Subuh tadi, aku baru bisa merasakan pejaman mata dan mimpi mulai menghampiri. Lalu siang ini ku bangun dan melihat isi kabar darinya, ternyata tidak ada. Tidak seperti dulu ketika dia bisa memulai memberikan kabar lebih awal dibanding aku, tapi sekarang harus selalu aku yang tegur sapa duluan lalu kamu akan menjawab ? Apakah sudah bosan untuk menyapaku meskipun hanya memanggil "sayang" ?  Iya sekarang sudah terlihat, dia yang dulu yang berkata benar-benar sayang dan dia yang sekarang yang dipertanyakan perkataannya itu.  Aku rindu, rindu ketika kamu tersenyum, tertawa dan berbagi cerita. Tapi untuk sekarang, untuk senyum dan tertawa pun aku harus meminta. Untuk bercanda pun hanya sebatas haha biasa saja. Aku harus bagaimana ? Apa harus aku makan lagi obat penenang dan ku minum sebotol air berwarna cokelat itu ? Biar aku lupa akan adanya aku di dunia, biar aku sedikit tenang melayang-layang tanpa berfikir banyak tentangmu. Baiklah, aku habiskan semua obat dan cairan itu, bi...

Poetry,

Moh Gufron Cholid TENTANG PERKENALAN KITA  Mengenalmu dari berbagai sisi  Kau duri yang menjaga diri  Tak untuk menyakiti  Mengenalmu dari berbagi sisi  Ada tahajjud yang menjelma puisi  Di tiap debar sunyi  Mengenalmu dari berbagai sisi  Selaksana laut berombak  Indah dalam melafalkan jejak  Mengenalmu dari berbagai sisi  Biarkan tabir misteri  Terbuka anggun tiada henti  Mengenalmu dari berbagai sisi  Semisal matahari ikhlas berbagi  Menyalakan lampu nurani Dalam kamar hati Kamar Hati, 13 April 2011

MEREGUK CINTA RUMI

“Kafilah yang Gaib merasuki dunia kasat mata. Tapi ia tetap tersembunyi dari orang-orang buruk. Bagaimana bisa perempuan jelita datang ke orang yang buruk? Burung Bulbul selalu menghampiri taman mawar. Melati tumbuh di sebelah bunga bakung, dan mawar menghampiri putik yang manis rasanya.”  Agar dengan akhlak yang mulia, hati kita bisa menampung cinta. “Dan, (jika mulia sudah pekerti kita, dan bersih hati kita) dari balik akal, Cinta yang indah datang menyeret gaunnya, dengan segelas anggur (pesona) ditangannya.”  Rumi adalah pencinta. Atau, lebih tepatnya, Rumi adalah cinta, hidupnya adalah cinta, seluruhnya. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada Nabi Saw., cinta kepada para kekasih-Nya, dan cinta kepada seluruh semesta. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah satu. Tuhan. Dari-Nya cinta berasal, kepada-Nya cinta berakhir, dalam Dia cinta itu Hidup. Dan karena itu, cinta azali, sekaligus baka. Dan menebar cinta, bersama Sang Kekasih, adalah keseluruhan hidup Rumi. Mengajak...