Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Ma, Kasihani Aku

Hai Rumi, Aku tidak bisa menjadikan kata untuk syair sufistik Bernada pelan kemudian mematik Mencela diri terhadap sisi romantik Yang dulu sengaja Dia mencabik Hati yang labuh bertitik Tapi Rumi, Mamaku berkata: "betulkah sungguh-sungguh ?" "Menaruh jika tidak silahkan berlalu" "Kau nak, anakku, mamamu rapuh, Bila kau harus berlabuh pada yang Tidak sungguh-sungguh". Mamaku, sulit Mimpiku selalu ditinggalkan Tapi entah apa yang sedang akan terjadi Biarkan mamaku, resiko ada padaku Ku mencintaimu, mencintai-Nya Dan juga dia sang angin yang selalu aku tidak tahu apa dia berlabuh padaku Atau pada sesamaku yang bukan diriku "Ma, jika gilaku, bukan karena Illahi, Dia kan memisahkan". Tapi Aku sungguh-sungguh. Pia Alba, 20 September 2017

Rumi, Bukan Aku

Bagi Jalaluddin Rumi, tidak patut menafikan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi dibalik yang lahir, seperti faedah yang terkandung dalam obat. NYANYIAN SERULING Dengarkan nyanyi sangsai Seruling Bambu Mendesah selalu, sejak direnggut Dari rumpun rimbanya dulu, alunan Lagu pedih dan cinta membara. "Rahasia nyanyianku, meski dekat, Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat Oh, andai ada teman tahu isyarat Mendekap segenap jiwa dengan jiwaku ! Ini nyala Cinta yang membakarku, Ini anggur Cinta mengilhamiku. Sudilah pahami betapa para pecinta terluka, Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!" PENDAKIAN JIWA Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan, Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan. Mengapa aku mesti takut ? Baiklah aku menjadi rendah karena kematian ? Namun sekali lagi aku akan mat...

Lebah Rindu

Malam itu pamit untuk bergegas Pergi untuk sedikit mendekatkan jarak Namun tak kunjung bertemu. Sedih tapi harus memahami Malam tidak baik untuk berjumpa. Tadi, kamu dimana ? Aku berangkat sekarang. Dan di sekian jarak aku melihat Lelaki berbaju kemeja batik hitam memegangi telpon genggamnya. "Oh iya aku liat kamu" Lalu ku masuk dan melihat. Aku sedikit sedih dan bahagia Melihatmu terlihat berbeda dan bercahaya Melihat mereka membuatku bahagia juga Sedihku, ku sadar berjumpa tidak akan lama Jam dua, Aku masih menahan rindu Ntah bagaimana, kulitmu pun belum aku rasa Aku ingin ikut, tapi siapa aku ? Pipiku kamu sentuh, aku masih bisa menahan mata Cium tangan lalu harus pergi, Apa dayaku ?  Hanya berkaca mata, memakai masker dan pelindung kepala Aku menghampiri lagi, Ibu "nanti main ke rumah ya" Bahagia bercampur lara Ku belok dan menghilangkan pandangan  Aku mulai tidak bisa menahan Terik menyengat, Mataku berk...

Lekas Kembali

Jari, Menari menunggu pagi Menanti birahi Dalam jarak tak terhitung Jari, Semisal dulu satu pelangi Menemani Sehelai mentari pagi Lalu berbunyi "Sudah siangnya" Mari kembali, Hidung, mata, bibir Kupegang alis tipis Berbau mentari pagi Bangkitlah sayang, Sudutnya akan tenggelam Karena dingin, Jari-jari Menanti Hingga mentari pergi Sayang, kabarnya diatas Aku senang Overdosisku belum sembuh
I'm lying down. I felt something in my heart, I turned to the right, then to the left, then I saw the wall of my room. I remember all about us, while walking together, laughing together, sad together. I always miss you and wait for you until you are ready to be my family leader later. I am happy with you, you are my friend, you are someone who always make me anxious, someone make me comfortable, you are my boyfriend, i love you wholeheartedly. Never be a loser, you must guard me, protect me, love me, be my pride, be someone who always fill my heart. I am happy with you. Goodnight my gong, love you :)