Rumi, Bukan Aku
Bagi Jalaluddin Rumi, tidak patut menafikan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi dibalik yang lahir, seperti faedah yang terkandung dalam obat.
NYANYIAN SERULING
Dengarkan nyanyi sangsai Seruling Bambu
Mendesah selalu, sejak direnggut
Dari rumpun rimbanya dulu, alunan
Lagu pedih dan cinta membara.
"Rahasia nyanyianku, meski dekat,
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman tahu isyarat
Mendekap segenap jiwa dengan jiwaku !
Ini nyala Cinta yang membakarku,
Ini anggur Cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pecinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!"
PENDAKIAN JIWA
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan.
Mengapa aku mesti takut ? Baiklah aku menjadi rendah karena kematian ?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan, untuk membumbung
Bersama para Malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat malaikat pun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh biarkanlah aku tiada! Karena ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga. "Sesungguhnya kepada Nya-lah kita kembali"
Begitu kata Rumi.
NYANYIAN SERULING
Dengarkan nyanyi sangsai Seruling Bambu
Mendesah selalu, sejak direnggut
Dari rumpun rimbanya dulu, alunan
Lagu pedih dan cinta membara.
"Rahasia nyanyianku, meski dekat,
Tak seorang pun bisa mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman tahu isyarat
Mendekap segenap jiwa dengan jiwaku !
Ini nyala Cinta yang membakarku,
Ini anggur Cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pecinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan Seruling!"
PENDAKIAN JIWA
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan.
Mengapa aku mesti takut ? Baiklah aku menjadi rendah karena kematian ?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan, untuk membumbung
Bersama para Malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat malaikat pun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh biarkanlah aku tiada! Karena ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga. "Sesungguhnya kepada Nya-lah kita kembali"
Begitu kata Rumi.
Komentar
Posting Komentar