Menunggu Hari Berlalu
Suasana malam dengan hujan dan suara katak yang berisik.
Ceritanya,
Hari masih saja kalut, awal pagi yang masih pagi.
Ku tidur telat untuk menonton sebuah film yang mungkin sedikit aku pahami dari karakter wanita. Hariku masih membiasakan dengan kondisi tempat baru. Ya, aku baru saja pindah tempat tinggal, awal tahun ini, 2020. Masih sering bermimpi bahwa aku harus betah, harus bisa untuk bercakap dengan orang lain, memang rasanya aneh. Bangun tidurku tidak sama, aku melihat orang dan mendengar suara manusia yang begitu berisik, bahkan suara kendaraan yang akan berjalan dikala aku bangun.
Pagiku baru ku tidur, siangku terbangun dengan sebuah ingatan aku harus keluar dan mencari sesuatu. Kala itu, kubangun dan mencuci muka saja, ku hisap satu saja lalu aku pergi. Sepulangku, ku mendengar mereka mengajakku untuk berenang, mereka teman baruku dalam sebuah atap, aku harus ikut, melatih sosialku dalam bercengkrama, mau tidak mau.
Ku hanya ikut dan berusaha berbaur dengan keadaan, hanya saja aku tidak terlalu ingin berenang karena aku tidak suka air dingin. Mandi, lalu ku keringkan badan lalu ku hisap lagi sebagian dari kehidupan.
Pulangku, bercengkrama dengan orang asing yg baru ku kenal, bahkan aku tidak tau siapa namanya, hanya saja aku berusaha untuk terus berbicara. Sampainya, ku masuk bilik lalu ku melihat ibu dan anak-anak kucing itu selalu menghampiriku ketika buka pintu. Ku biarkan mereka bermain, hanya saja mereka tidak boleh menaikki raranjangku. Aku tau ibu lapar, tapi aku belum beli makan dan tidak bisa berbagi. Aku hanya duduk melihat ibu menyusui dengan badan sedikit terlihat tulang, mungkin badannya terkuras untuk mengurus dan menyusui.
Ibu kucing, aku sedikit perihatin dengan keadaan kita, asal kamu menemani dan mengurus anak-anakmu depan kamarku aku sudah senang, meskipun hanya rumah kardus dan bantalan kain bekas aku harap kamu tinggal disana dan menyambutku ketika aku pulang.
Soreku, aku tidur karena sakit perut itu sudah sangat sakit. Malamku bangun dan mendapati keadaanku tidak begitu baik. Ku keluar dan mengajak adik tingkatku untuk berjumpa ditempat kopi, mungkin itu akan lebih baik untuk melatihku bertemu manusia.
Sampaiku, aku hanya berbincang-bincang dan mereka masih asik dengan perbincangannya, aku sendiri tidak terlalu banyak berbicara karena memang aku tidak pandai.
Lalu, kudapati motorku sudah terparkir depan dapur itu. Ternyata manusia itu sudah datang tanpa aku tidak melihat sekitar. Aku biarkan saja malam ini beradaptasi semestinya, mereka sendiri tidak akan peduli ketika aku berjalan melewati sebuah nyawa.
Tidak lama, minuman itu menghampiri dan membuatku merasa moody dengan keadaan, aku rasa menulis lebih baik daripada aku harus berisik dan mengganggu manusia lain. Atau baca komik akan menjadi menyanangkan tanpa harus tertawa seperti melihat video lucu di instagram.
Baiklah, hari ini aku masih berusaha untuk menjadi manusia, karena pada dasarnya aku hanya manusia yang terlihat seperti kuman.
Terimakasih untuk waktu ketika awal tidur dan sampai saat ini aku akan menemukan esok yang tidak tahu ceritanya, mungkin aku mati, capek atau tertawa terbahak bahak sampai aku mati.
-pia alba- in January.
Ceritanya,
Hari masih saja kalut, awal pagi yang masih pagi.
Ku tidur telat untuk menonton sebuah film yang mungkin sedikit aku pahami dari karakter wanita. Hariku masih membiasakan dengan kondisi tempat baru. Ya, aku baru saja pindah tempat tinggal, awal tahun ini, 2020. Masih sering bermimpi bahwa aku harus betah, harus bisa untuk bercakap dengan orang lain, memang rasanya aneh. Bangun tidurku tidak sama, aku melihat orang dan mendengar suara manusia yang begitu berisik, bahkan suara kendaraan yang akan berjalan dikala aku bangun.
Pagiku baru ku tidur, siangku terbangun dengan sebuah ingatan aku harus keluar dan mencari sesuatu. Kala itu, kubangun dan mencuci muka saja, ku hisap satu saja lalu aku pergi. Sepulangku, ku mendengar mereka mengajakku untuk berenang, mereka teman baruku dalam sebuah atap, aku harus ikut, melatih sosialku dalam bercengkrama, mau tidak mau.
Ku hanya ikut dan berusaha berbaur dengan keadaan, hanya saja aku tidak terlalu ingin berenang karena aku tidak suka air dingin. Mandi, lalu ku keringkan badan lalu ku hisap lagi sebagian dari kehidupan.
Pulangku, bercengkrama dengan orang asing yg baru ku kenal, bahkan aku tidak tau siapa namanya, hanya saja aku berusaha untuk terus berbicara. Sampainya, ku masuk bilik lalu ku melihat ibu dan anak-anak kucing itu selalu menghampiriku ketika buka pintu. Ku biarkan mereka bermain, hanya saja mereka tidak boleh menaikki raranjangku. Aku tau ibu lapar, tapi aku belum beli makan dan tidak bisa berbagi. Aku hanya duduk melihat ibu menyusui dengan badan sedikit terlihat tulang, mungkin badannya terkuras untuk mengurus dan menyusui.
Ibu kucing, aku sedikit perihatin dengan keadaan kita, asal kamu menemani dan mengurus anak-anakmu depan kamarku aku sudah senang, meskipun hanya rumah kardus dan bantalan kain bekas aku harap kamu tinggal disana dan menyambutku ketika aku pulang.
Soreku, aku tidur karena sakit perut itu sudah sangat sakit. Malamku bangun dan mendapati keadaanku tidak begitu baik. Ku keluar dan mengajak adik tingkatku untuk berjumpa ditempat kopi, mungkin itu akan lebih baik untuk melatihku bertemu manusia.
Sampaiku, aku hanya berbincang-bincang dan mereka masih asik dengan perbincangannya, aku sendiri tidak terlalu banyak berbicara karena memang aku tidak pandai.
Lalu, kudapati motorku sudah terparkir depan dapur itu. Ternyata manusia itu sudah datang tanpa aku tidak melihat sekitar. Aku biarkan saja malam ini beradaptasi semestinya, mereka sendiri tidak akan peduli ketika aku berjalan melewati sebuah nyawa.
Tidak lama, minuman itu menghampiri dan membuatku merasa moody dengan keadaan, aku rasa menulis lebih baik daripada aku harus berisik dan mengganggu manusia lain. Atau baca komik akan menjadi menyanangkan tanpa harus tertawa seperti melihat video lucu di instagram.
Baiklah, hari ini aku masih berusaha untuk menjadi manusia, karena pada dasarnya aku hanya manusia yang terlihat seperti kuman.
Terimakasih untuk waktu ketika awal tidur dan sampai saat ini aku akan menemukan esok yang tidak tahu ceritanya, mungkin aku mati, capek atau tertawa terbahak bahak sampai aku mati.
-pia alba- in January.
Komentar
Posting Komentar